Siapakah yang pantas disebut anak dari seorang AYAH dan bunda? Apakah ia yang memiliki keterhubungan nasab dengannya? Ternyata bukan. Perhatikanlah bagaimana Allah menasehati Nabi Nuh AS saat ia hendak mendoakan keselamatan bagi anaknya yang tak mau diajak masuk ke dalam bahtera miliknya. Allah mengatakan :

“Sesungguhnya ia bukan termasuk anggota keluargamu” (Huud : 46).

Pembangkangan yang dilakukan oleh Kan’an, anak nabi Nuh karena menolak dakwah dari ayahnya mengakibatkan ia tidak diakui oleh Allah sebagai anggota keluarga nabi Nuh. Ia mendapatkan posisi yang hina di akherat. Di saat sang AYAH mendapatkan kenikmatan yang begitu indah di surga, sementara sang anak justru terlempar ke dalam siksa neraka. Mereka pun terpisah, takkan lagi bersua. Disinilah orangtua dan anak yang terhubung secara nasab tak berlaku lagi. Sebab yang menghantarkan orangtua bisa berkumpul bersama dengan anaknya adalah iman.

Ya, hanya iman lah yang sejatinya menjadi penghubung antara ortu dan anak di akherat. Dan kebahagiaan orangtua adalah ketika mampu mengajak anaknya berkumpul bersama di surga. Allah berfirman :

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (di surga)…”(Ath Thur : 21)

Mengenai hal ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa

يخبر تعالى عن فضله وكرمه وامتنانه ولطفه بخلقه وإحسانه أن المؤمنين إذا اتبعتهم ذرياتهم في الإيمان يلحقهم بآبائهم في المنزلة وإن لم يبلغوا عملهم لتقر أعين الآباء بالأبناء عندهم في منازلهم

“Allah memberitahukan tentang karunia, kemurahan, anugerah dan kelembutanNya kepada semua makhlukNya, serta kebaikanNya bahwa jika orang-orang beriman itu diikuti keimanannya oleh anak keturunan mereka, maka mereka akan dipertemukan di suatu tempat di surga, meskipun amal mereka tidak sampai pada amal perbuatan ayah dan ibu mereka, agar orangtua merasa senang dengan kehadiran anak-anaknya di sisi mereka” (Tafsir Ibnu katsir 7/40)

Sungguh orangtua yang sukses mendidik anaknya bukanlah yang menghantarkan anaknya jadi pengusaha ternama, ataupun memiliki gelar akademik berderet di belakang namanya. Ortu yang sukses mendidik anaknya adalah yang jerih payahnya ditujukan untuk kebahagiaan anak di akherat yakni mengajarkan Iman kepadanya. Apalah artinya jika sang anak dianggap sebagai orang terpandang karena jabatannya atau karena kekayaannya, namun tak sekalipun ia mau sujud kepada Allah SWT. Saat ayah atau ibunya wafat, ia tak mampu mendoakannya. Ayah dan bunda lupa mengajarkan iman kepadanya. Kedudukan dan pangkat sang anak tak memiliki arti apa-apa. Allah kelak akan menempatkannya di tempat yang hina di akherat. Dan orangtua tak mampu untuk menyelamatkannya.

Itulah kenapa ortu yang sayang kepada anaknya bukanlah yang sekedar mewariskan harta atau kekayaan. Orangtua yang peduli justru meninggalkan warisan iman. Dimana ia meyakinkan bahwa selepas ia tiada, sang anak tetap terjaga imannya. Tak sekalipun melenceng dari panduan agama. Sebagaimana Nabi Ya’qub AS berpesan kepada anak-anaknya menjelang wafat. Allah abadikan kisahnya dalam Al quran :

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya (Al Baqoroh : 133)

Kepedulian Ya’qub ditunjukkan dengan wasiat penting yang ia sampaikan sebelum ia menghadap Tuhannya. Ia mengkhawatirkan keimanan anak-anaknya. Maka ia pun bertanya “Apa yang kamu sembah setelah AYAH wafat?”. Sebab, seandainya ia tak memastikan keimanan anaknya, maka kelak ia dan anaknya bercerai berai di akherat. Tak lagi bisa berkumpul menjadi sebuah keluarga. Sebab sejatinya keluarga yang broken home bukanlah keluarga yang bercerai berai di dunia. Keluarga broken home adalah keluarga yang tak mampu berkumpul bersama di surga.

Jangan sampai keluarga kita mengalami broken home. Dimana anak keturunan kita tak diperhatikan keimanannya. Maka, orangtua harus memiliki visi yang benar dalam pengasuhan. Visi yang menghantarkan setiap anggota keluarga kepada kebahagiaan sesungguhnya : masuk surga sekeluarga. Sungguh Indah rasanya. Saat canda dan tawa serta suka cita terpuaskan tanpa batas di akherat. Setiap orang bisa saling bercengkrama di surga yang kekal abadi. Karena itu AYAH sebagai kepala keluarga harus berani mengambil langkah tegas untuk bisa bawa seluruh anggota keluarga ke dalam surga. Di antaranya dengan mengubah visi hidup. Bahwa hidup bukanlah mengejar popularitas atau kekayaan serta kejayaan di dunia. Namun yang utama menghabiskan waktu untuk fokus kepada kejayaan di akherat.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…(Al Qoshosh : 77)

Fokuslah kepada akherat, tapi jangan lupakan urusan dunia. Inilah sejatinya visi hidup orangtua muslim. Bukan dibalik. Menjadikan akherat hanya aktivitas sampingan sebab semua anggota keluarga sibuk mencari kejayaan dunia. Alhasil, aktivitas akherat dikerjakan sebatas sempat, di kala senggang. Bukan menjadi prioritas. Diajak mengaji mau, dengan syarat tak berbenturan dengan jadwal main futsal. Mengaji harus kalah dengan kegiatan yang sekedar mencari kesenangan dunia. Jika ini dibiarkan maka upaya mengajak anak masuk surga bersama akan sia-sia. Urusan akherat selayaknya menjadi skala prioritas, tanpa mengabaikan urusan dunia.

Jangan sungkan dan malu untuk katakan kepada anak kita “Ayah/Bunda ingin sekali kita masuk surga bersama nak. Bantu ayah/bunda ya!” Kalimat ini harus sering diucapkan agar anak tahu visi orangtuanya. Bahkan di saat sang anak melanggar aturan agama, ortu cukup katakan kepadanya “Ayah tak mau kehilangan dirimu di akherat nak. Maafkan ayah kalau tegas melarangmu bermaksiat. Ayah ingin kita bisa bersama di surga” Ah, indah sekali rasanya. Seandainya setiap orangtua punya visi akan akherat, maka kita akan lihat setiap anak bersemangat dalam bertindak kebaikan serta malu melakukan hal yang mungkar. Ada energi yang mendorong mereka melakukan hal itu semua yakni bisa bersama-sama masuk surga dengan kedua orangtuanya.

Ayah Bunda, ajaklah anakmu ke surga. Hal ini lebih mereka butuhkan dibandingkan plesiran keliling eropa. Atau menghabiskan waktu berhari-hari melancong ke tempat wisata. Sungguh anakmu mengharapkan sosok Ayah dan Bunda yang peduli dalam urusan agama mereka. Bukan warisan harta yang mereka inginkan. Namun warisan iman lah yang utama. Kelak kebahagiaan bersama kan dirasakan. Ayah Bunda, mari katakan kepada anak kita “masuk surga bareng yuk nak!”. Inilah sebenar-benarnya kalimat cinta.

 

INSPIRASI AYAH

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123)